PERGANTIAN tahun selalu menghadirkan harapan. Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah.
Ia membawa pesan yang jauh lebih dalam: sebuah panggilan untuk berubah.
Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW lebih dari 14 abad lalu bukan hanya perjalanan dari Makkah ke Madinah.
Hijrah adalah titik balik peradaban. Dari sebuah masyarakat yang diliputi konflik, ketidakadilan, dan perpecahan, lahirlah tatanan sosial baru yang dibangun di atas fondasi keimanan, persaudaraan, kejujuran, dan keadilan.
Pesan itulah yang tetap relevan hingga hari ini.
Di tengah derasnya arus informasi, persaingan ekonomi, dan berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa, makna hijrah perlu dimaknai lebih luas.
Bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak.
Kita hidup di era ketika kemajuan teknologi berjalan sangat cepat, tetapi tidak selalu diiringi dengan kemajuan moral. Informasi berlimpah, namun kebijaksanaan sering kali terasa langka. Komunikasi semakin mudah, tetapi persaudaraan justru kerap tergerus oleh perbedaan pandangan.
Di sinilah semangat hijrah menemukan relevansinya.
Hijrah hari ini adalah keberanian meninggalkan kebiasaan yang merugikan menuju kebiasaan yang membangun.
Hijrah adalah berpindah dari budaya menyalahkan menuju budaya mencari solusi. Dari sikap apatis menuju kepedulian. Dari sekadar menjadi penonton perubahan menjadi pelaku perubahan.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini juga tidak kekurangan sumber daya. Yang sering kali menjadi tantangan adalah bagaimana menghadirkan integritas, amanah, dan semangat kebersamaan dalam setiap langkah pembangunan.
Karena itu, Tahun Baru Islam seharusnya menjadi momentum refleksi bersama.
Bagi pemimpin, hijrah berarti menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada rakyat. Bagi aparatur negara, hijrah berarti memperkuat pelayanan yang jujur dan profesional. Bagi dunia usaha, hijrah berarti membangun ekonomi yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga kebermanfaatan.
Bagi masyarakat, hijrah berarti memperkuat kepedulian sosial dan menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari keberanian untuk berubah.
Rasulullah SAW dan para sahabat meninggalkan zona nyaman demi masa depan yang lebih baik. Mereka menghadapi tantangan, tekanan, bahkan ancaman. Namun dari perjuangan itulah lahir masyarakat yang menjadi rujukan dunia dalam membangun kehidupan yang berkeadaban.
Pertanyaannya, sudahkah kita berhijrah?
Bukan sekadar berpindah tempat ibadah atau memperbanyak simbol keagamaan, tetapi berhijrah dalam makna yang sesungguhnya: memperbaiki karakter, meningkatkan kualitas diri, dan menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi sesama.
Tahun 1448 Hijriah datang membawa lembaran baru. Ia menawarkan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk memulai kembali, memperbaiki yang kurang, dan melanjutkan yang baik.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah hijrah bukanlah sejauh apa kita melangkah, melainkan seberapa besar perubahan positif yang kita hadirkan bagi kehidupan.
Semoga Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi momentum untuk memperkuat iman, memperkokoh persaudaraan, dan menumbuhkan semangat membangun negeri dengan akhlak serta keteladanan.
Menjadi iktiar bersama berhijrah dari keluhan menuju perubahan, dari perpecahan menuju persatuan, dan dari kepentingan pribadi menuju kemaslahatan bersama.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Semoga setiap langkah yang kita tempuh menjadi bagian dari ikhtiar menuju masyarakat yang lebih beradab, bangsa yang lebih maju, dan masa depan yang lebih bermartabat. (***)
___________
Penulis Khairullah (Alumni UIN Suska Riau yang berkhidmad sebagai jurnalis)
Komentar Anda :