Kamis, 01 Oktober 2026 Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri | Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar | Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto | Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu | Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026 | Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
 
 
☰ Internasional
China Kini Hadapi Virus Tick Borne, Apa Itu?
Minggu, 09 Agustus 2020 - 11:11:25 WIB
Ilustrasi, Mitesh Parmar

SULUHRIAU-  Ketika pemerintah di seluruh dunia terus bergulat dengan pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung, China kini menghadapi ancaman virus lain.

Penyakit yang disebut Demam Parah dengan Sindrom Trombositopenia (SFTS) telah membunuh tujuh orang dan menginfeksi sedikitnya 60 lainnya. Penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui tick atau kutu (tick borne) itu memicu peringatan di kalangan pejabat kesehatan di negara itu.

Media setempat melaporkan bahwa kasus-kasu tersebut terkonsentrasi di Provinsi Jiangsu dan Anhui China Timur. Sementara lebih dari 37 orang didiagnosis dengan SFTS di Jiangsu pada awal tahun 2020, 23 orang kemudian ditemukan terinfeksi di Anhui, mengutip Sindonews yang melansir Indian Express.

Penyakit yang menular ke manusia melalui gigitan kutu ini pertama kali diidentifikasi oleh tim peneliti China lebih dari satu dekade lalu. Beberapa kasus pertama dilaporkan di daerah pedesaan di Provinsi Hubei dan Henan pada 2009.

Tim peneliti mengidentifikasi virus dengan memeriksa sampel darah yang diperoleh dari sekelompok orang yang menunjukkan gejala serupa. Menurut laporan Nature, virus itu membunuh setidaknya 30 persen dari mereka yang terinfeksi.

Menurut Sistem Informasi China untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, tingkat kematian kasus saat ini berada di antara sekitar 16 dan 30 persen.

Karena tingkat penyebaran dan fatalitasnya yang tinggi, SFTS telah terdaftar di antara 10 penyakit prioritas teratas blue print Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ahli virologi percaya bahwa kutu Asia yang disebut Haemaphysalis longicornis adalah vektor atau pembawa utama virus. Penyakit ini diketahui menyebar antara Maret dan November. Para peneliti telah menemukan bahwa jumlah total infeksi umumnya mencapai puncaknya antara April dan Juli.

Peternak, pemburu, dan pemilik hewan peliharaan sangat rentan terhadap penyakit ini karena mereka sering bersentuhan dengan hewan yang mungkin membawa kutu Haemaphysalis longicornis.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa virus sering ditularkan ke manusia dari hewan seperti kambing, sapi, rusa, dan domba. Meskipun terinfeksi oleh virus, hewan umumnya tidak menunjukkan gejala yang terkait dengan SFTSV.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti China pada 2011, masa inkubasi antara tujuh hingga 13 hari setelah timbulnya penyakit. Pasien yang menderita penyakit ini biasanya mengalami berbagai macam gejala, termasuk demam, kelelahan, kedinginan, sakit kepala, limfadenopati, anoreksia, mual, mialgia, diare, muntah, sakit perut, perdarahan gingiva, kongesti konjungtiva, dan sebagainya.

Beberapa tanda peringatan dini penyakit ini yaitu demam parah, trombositopenia atau jumlah trombosit yang rendah, dan leukositopenia, yaitu jumlah sel darah putih yang rendah. Faktor risiko yang diamati pada kasus yang lebih serius termasuk kegagalan multi-organ, manifestasi hemoragik dan munculnya gejala sistem saraf pusat (SSP).

Virus ini juga menyebar ke negara Asia Timur lainnya, termasuk Jepang dan Korea Selatan (Korsel). Sejak virus pertama kali ditemukan, jumlah kasus telah meningkat secara signifikan.

Pada 2013, sebanyak 36 kasus dilaporkan di Korsel. Jumlah itu meningkat tajam menjadi 270 pada 2017. Sementara itu, China mendaftarkan 71 kasus pada 2010 dan 2.600 pada 2016. Jumlah infeksi yang dilaporkan di Jepang meningkat 50 persen antara 2016 dan 2017, laporan Nature menyatakan.

Ketika jumlah kasus mulai meningkat di ketiga negara, pejabat kesehatan masyarakat mulai mendidik dokter lokal dan warga biasa tentang risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh gigitan kutu. Para ilmuwan menyatakan, karena semakin banyak orang yang menyadari virus dan penyakit yang ditimbulkannya, tingkat kematian akibat infeksi mulai turun secara signifikan.

Sementara vaksin untuk mengobati penyakit ini belum berhasil dikembangkan, obat antivirus Ribavirin diketahui efektif untuk mengobatinya.

Untuk menghindari tertular penyakit, berbagai otoritas pemerintah, termasuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China, mendesak masyarakat umum untuk menghindari mengenakan celana pendek saat berjalan melalui rumput tinggi, hutan, dan lingkungan lain di mana kutu cenderung berkembang.

Sebelumnya, wabah Bubonic juga muncul di China. Kasus penyakit yang lebih dikenal sebagai penyakit pes ini dikonfirmasi muncul di sebuah kota di Mongolia Dalam. (***)




 
Berita Lainnya :
  • Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
  • Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
  • Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
  • Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
  • Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
    02 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
    03 Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
    04 Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
    05 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    06 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    07 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    08 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    09 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    10 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    11 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    12 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    13 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    14 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    15 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    16 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    17 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    18 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    19 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    20 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
    21 Diikuti 50 Kepala Sekolah, PWI Kepulauan Meranti Taja Pelatihan dan Seminar Jurnalistik
    22 8 Tahun Terbengkalai, Pemprov Riau akan Urus Jembatan Penghubungkan Pasar Rumbio-Pulau Payung
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat