Senin, 17 Agustus 2026 Mafirion: Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat | Dibalut Pakaian Adat Nusantara, Upacara HUT ke-81 RI di Pemko Pekanbaru Berlangsung Khidmat | Di Balai Pauh Janggi, Kemenkum Riau Serahkan Remisi HUT ke-81 RI untuk Narapidana | Peringati HUT ke-81 RI, Kemenkum Riau Tegaskan Komitmen Layani Rakyat dengan Integritas | Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti | Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap
 
 
☰ Religi
Tela'ah
Kapan Istilah Salafi Wahabi Mulai Digunakan?
Kamis, 28 November 2019 - 13:10:09 WIB
Seorang penganut salafi di Mesir sedang memegang salinan konsitusi baru negaranya. [Photo by AP/Isc]

KITA sering kali melakukan stereotyping dan generalisasi, menganggap semua yang berjenggot dan memiliki tanda hitam pada dahi adalah seorang salafi atau wahabi.

Begitu juga dengan orang-orang yang menggunakan celana cingkrang (tidak isbal), terkadang kita tidak ragu mencela mereka dengan sebutan salafi atau wahabi hanya karena celana yang mereka gunakan.

Sebelum kita melakukan tindakan-tindakan yang kurang baik dengan istilah “salafi wahabi” ini kita perlu mengetahui apa definisinya dan kapan istilah tersebut mulai digunakan.

Salafi secara bahasa menurut Ibn Mandzur berakar pada kata “salafa” (سلف) yang berarti “Madha” atau lampau. Sedangkan jika kata ini dirangkai dengan kata qaum, misalnya, maka akan berarti “al-mutaqaddimin”, yaitu kaum terdahulu.

ʽAbd Allah ibn ʽAbd al-Ḥamid al-Atsari, salah satu tokoh salafi Arab Saudi menyebutkan bahwa penyebutan salaf mengindikasikan kembali kepada tiga zaman pertama Islam (tsalatsah al-qurun al-awail), yang meliputi zaman sahabat, tabiʽin dan tabiʽit al tabiʽin.
Orang-orang yang hidup pada tiga masa awal ini diyakini sebagai kelompok pengikut sunnah dan menjauhi bid’ah. Tiga kelompok masa inilah yang disebut sebagai al-Salaf al-Shaliḥ.

Penyebutan ini terinpirasi dari sebuah hadis riwayat Imam al-Bukhari yang menyebutkan,

خير أمتي قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
“Sebaik-baiknya umatku adalah yang hidup semasa dengan abadku, lalu abad setelahku lalu abad setelahnya.” (Muḥammad ibn Ismaʽil al-Bukhari,al-Jamiʽ al-Shaḥiḥ, (Beirut: Dar ṭuq al-Najat, 1422), j. 9, h. 180.)

Semangat untuk mengikuti “generasi emas” inilah yang oleh Arrazy Hasyim dalam Teologi Muslim Puritan, disebut sebagai sebab yang melahirkan religius yang khas, yaitu semua aspek keagamaan meliputi teologi, fikih, kaedah berfikir, berpakaian, dan atribut-atribut keseharian harus mengikuti tuntunan yang disebut “Manhaj Salaf”.
Hal inilah yang menjadikan pembacaan mereka atas sebuah teks menjadi tekstualis dan mengabaikan konteks yang melatarbelakangi kemunculan teks tersebut.

Sedangkan Wahabi adalah nisbah kepada Muhammad bin Abdul Wahab yang merupakan salah satu pengikut Ibn Taymiyah (w. 728 H). Muhammad bin Abdul Wahab sendiri merupakan salah satu ulama yang terpengaruh dengan pemikiran Ibn Qayyim al-Jauziyah, yang salah satunya terdapat dalam kitabnya yang berjudul Ighatsat al-Lahafan.

Kitab ini berbicara panjang tentang penghancuran bangunan di atas kuburan, seperti kubah, atap, bahkan masjid di atasnya. Ibn al-Qayyim terinspirasi dari perintah Nabi Saw. yang memerintahkan untuk menghancurkan kuburan yang ditinggikan, apalagi bangunan di atasnya. Hal ini dinilai sama oleh Ibn al-Qayyim dengan pengahancuran Nabi SAW. atas masjid Dhirar.

Pemikiran Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang meresahkan masyarakat ini lah yang menjadikannya berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain, hingga ia sampai pada kota Darʽiyah dan kenal akrab dengan Abd Allah ibn ʽAbd al-Raḥman Sulaym yang memiliki akses kepada Ibn Suʽud.

Singkat cerita, ketika Ibn Suʽud mendirikan negara alu Suʽud atau Saudi Arabia yang didukung oleh pemikiran Muhammad ibn Abd al-Wahhab. Kekuasaan inilah yang menyebarkan ideologi purifikasi Muhammad ibn Abd al-Wahhab.

Lalu apa hubungan salafi dengan wahabi? Menurut Arrazy, keduanya sama-sama memiliki semangat purifikasi yang sama. Namun bukan berarti keduanya berbeda, justeru kesamaan purifikasi ini dilandasi oleh alur sejarah dan genealogi yang sama.

Arrazy Hasyim menyebutkan bahwa ada dua ulama yang berjasa dalam mengenalkan term salafi dan wahabi. Pertama adalah Muhammad Zaini Dahlan (1304 H.), salah satu ulama Mekkah yang menulis kitab Al-Durar al-Saniyyah fi al-Rad ʽala Wahhabiyah dan Fitnah al-Wahhabiyah yang menjelaskan tentang fakta pembunuhan yang dilakukan oleh Laskar Wahhabi. Kedua adalah Rasyid Ridha (1354 H.) yang menulis al-Wahhabiyun wa al-Hijaz.

Dalam artikel tersebut, Rasyid Ridha membela wahabi yang disebut sering mendapat tuduhan terkait sikap takfir dan tadlil. Menurutnya, ketika ajaran Muhammad ibn Abd al-Wahhab masuk ke kota Mekkah oleh puteranya, Abd Allah, dijelaskan kepada para ulama bahwa ajaran tersebut sesuai manhaj Salaf.
Terlepas dari mana yang benar antara keduanya, Arrazy menilai bahwa keduanyalah yang berperan penting dalam memopulerkan istilah wahabi, selain term salafi yang juga ikut dipopulerkan oleh Rasyid Ridha. Namun belakangan ini, istilah Wahabi lebih identik bahkan melebur dalam term Salafi, bahkan beberapa orang lebih suka mengaku sebagai Salafi dan tidak suka disebut Wahabi.

Sebelum Rasyid Ridha, term Salaf telah sering diulang-ulang oleh Ibn Taymiyah. Dalam kitab kecilnya yang berjudul Iqtida’ al-Shirat al-Mushtaqim, ditemukan penyebutan kata salaf sebanyak empat puluh kali.
Sebagai kitab kecil, penyebutan tersebut tergolong banyak, bahkan Ibn Taymiyah berulang kali menyebutkan bahwa pendapatnya sesuai dengan kaul salaf.

Tidak hanya dalam kitab tersebut, Ibn Taymiyah juga sering menyebut kata salaf dalam karya-karyanya yang lain. Penyebutan kata salaf ini juga sering dilakukan oleh murid setia Ibn Taymiyah, Ibn Qayyim al-Jauziyah (751 H.).

Dalam kitabnya yang berjudul A’lam al-Muwaqqiʽin, Ibn Qayyim menyebutkan kata salaf sebanyak tujuh puluh kali.

Pada abad 20an, term salaf kembali dipopulerkan oleh ʽAbd al-Aziz ibn Baz (1990 M.), al-Albani (1991 M.), Rabiʽ ibn al-Hadi al-Madkhali dan lainnya. Ibn Baz justeru pernah memberikan saran kepada orang yang mengaku sebagai salafi tapi tidak mau disebut sebagai Wahabi. Ibn Baz lah yang memopulerkan istilah Salafi Wahabi sehingga seolah-olah tidak ada pembatas antara Salafi dan Wahabi, Salafi adalah Wahabi, begitupun juga sebaliknya.

Hal ini juga dilakukan oleh al-Albani yang disebut lebih tegas dari pada Ibn Baz, bahkan ia mencaci maki setiap orang yang dinilai berbeda dengan pendapat generasi terdahulu. Salafi dalam model ini disebut Henry Lauziere sebagai golongan yang berbeda dengan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang cenderung moderenis, salafi ala Ibn Baz dan al-Albani ini tergolong sebagai purist Salafi (Salafi murni). Wallahu a’lam.


Islami.co [M. Alvin Nur Choironi]
Editor: Jandri



 
Berita Lainnya :
  • Mafirion: Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat
  • Dibalut Pakaian Adat Nusantara, Upacara HUT ke-81 RI di Pemko Pekanbaru Berlangsung Khidmat
  • Di Balai Pauh Janggi, Kemenkum Riau Serahkan Remisi HUT ke-81 RI untuk Narapidana
  • Peringati HUT ke-81 RI, Kemenkum Riau Tegaskan Komitmen Layani Rakyat dengan Integritas
  • Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Mafirion: Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat
    02 Dibalut Pakaian Adat Nusantara, Upacara HUT ke-81 RI di Pemko Pekanbaru Berlangsung Khidmat
    03 Di Balai Pauh Janggi, Kemenkum Riau Serahkan Remisi HUT ke-81 RI untuk Narapidana
    04 Peringati HUT ke-81 RI, Kemenkum Riau Tegaskan Komitmen Layani Rakyat dengan Integritas
    05 Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti
    06 Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap
    07 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    08 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    09 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    10 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    11 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    12 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    13 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    14 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    15 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    16 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    17 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    18 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    19 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    20 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    21 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    22 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat