Hikmah
Mau Tahu Hikmah Diwajibkan Mandi Setelah Keluar Mani?, Ini Pendapat Ulama
Jumat, 11 Oktober 2019 - 09:32:10 WIB
SULUHRIAU- Ulama berbeda pendapat mengenai hukum mani, apakah suci atau najis sebagaimana dijelaskan dalam artikel berjudul Apakah Mani (Sperma) Itu Najis? Ini Pandangan Ulama Empat Mazhab.
Syekh Sulaiman al-Bujairimi dalam kitab Hasyiyah-nya menjelaskan mengapa orang yang mengeluarkan mani itu wajib mandi.
كَوْنÙÙ‡Ù ÙŠÙŽØ®Ù’Ø±ÙØ¬Ù مَعَ الْغَÙْلَة٠عَنْ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù ØºÙŽØ§Ù„ÙØ¨Ù‹Ø§ØŒ Ùَلَا ÙŠÙŽÙƒÙŽØ§Ø¯Ù Ø§Ù„Ø´Ù‘ÙŽØ®Ù’ØµÙ ÙŠÙŽØ°Ù’ÙƒÙØ±Ù أَنَّه٠بَيْنَ يَدَيْ اللَّه٠تَعَالَى، بَلْ تَعÙمّ٠جَسَدَه٠الْغَÙْلَة٠تَبَعًا Ù„ÙØ¹ÙÙ…Ùوم٠اللَّذَّةÙ
“Seseorang yang keluar mani itu sedang dalam keadaan lalai mengingat Allah sebagaimana umum terjadi. Memang terkadang seseorang itu ingat bahwa ia berada dalam awasan Allah. Kelalaian lebih dominan menyelimuti tubuhnya, karena kenikmatan (keluar mani).â€
وَمَعْلÙومٌ أَنَّ اللَّذَّةَ النَّÙْسَانÙيَّةَ تÙÙ…Ùيت٠كÙلَّ Ù…ÙŽØÙŽÙ„ّ٠مَرَّتْ Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡ÙØŒ ÙˆÙŽÙ…Ùنْ Ù‡Ùنَا أَمَرَنَا Ø§Ù„Ø´Ù‘ÙŽØ§Ø±ÙØ¹Ù Ø¨ÙØ§Ù„Ù’ØºÙØ³Ù’Ù„Ù Ù…Ùنْ Ø®ÙØ±Ùوج٠الْمَنÙيّ٠لÙÙƒÙلّ٠الْبَدَن٠إنْعَاشًا Ù„Ùلْبَدَن٠الَّذÙÙŠ Ùَتَرَ وَضَعÙÙÙŽ Ù…Ùنْ Ø´ÙØ¯Ù‘َة٠الْØÙجَاب٠عَنْ اللَّه٠تَعَالَى ÙˆÙŽÙƒÙلّ٠مَا ØÙŽØ¬ÙŽØ¨ÙŽ Ø¹ÙŽÙ†Ù’ اللَّه٠ÙÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ رÙكْسٌ عÙنْدَ Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽÙƒÙŽØ§Ø¨ÙØ±Ù Ø¨ÙØ®ÙلَاÙÙ Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽØµÙŽØ§ØºÙØ±Ù.
“Seperti diketahui bahwa kelezatan nafsu itu melemahkan segala tempat yang dilewatinya. Karena itu, Nabi memerintah kita untuk mandi (wajib) membasuh seluruh badan setelah keluar mani. Hal ini berguna untuk menyegarkan badah yang tadinya lesu dan lemah karena sangat terhalang jauh dari (makrifat) pada Allah. Setiap sesuatu yang menghalangi (makrifat) pada Allah itu dianggap sesuatu yang menjijikan. Ini menurut ulama yang memiliki maqam tinggi di sisi Allah. Ini berbeda dengan orang-orang awam.â€
Ùَكَلَام٠أَبÙÙŠ ØÙŽÙ†ÙÙŠÙَةَ وَمَالÙك٠خَاصٌّ Ø¨ÙØ§Ù„Ù’Ø£ÙŽÙƒÙŽØ§Ø¨ÙØ±Ù Ù…Ùنْ الْعÙÙ„ÙŽÙ…ÙŽØ§Ø¡Ù ÙˆÙŽØ§Ù„ØµÙ‘ÙŽØ§Ù„ÙØÙينَ، وَكَلَام٠الْإÙمَام٠الشَّاÙÙØ¹Ùيّ٠وَأَØÙ’مَدَ خَاصٌّ Ø¨ÙØ¹ÙŽÙˆÙŽØ§Ù…Ù‘Ù Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…Ùينَ، ÙÙŽÙ„ÙØ°ÙŽÙ„ÙÙƒÙŽ غَسَلَه٠النَّبÙيّ٠– صَلَّى اللَّه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ – تَارَةً ÙˆÙŽÙÙŽØ±ÙŽÙƒÙŽÙ‡Ù Ø£ÙØ®Ù’رَى تَشْرÙيعًا Ù„ÙÙ„Ù’Ø£ÙŽÙƒÙŽØ§Ø¨ÙØ±Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø£ÙŽØµÙŽØ§ØºÙØ±ÙØŒ ÙَاÙْهَمْ، شَعْرَانÙيٌّ ÙÙÙŠ الْمÙيزَانÙ.
“Pendapat Imam Abu Hanifah dan Malik (kenajisan mani) itu khusus untuk ulama dan orang saleh yang memiliki maqam yang tinggi. Sementara itu, pendapat Imam Syafii dan Ahmad (mengenai ketidaknajisan mani) itu khusus untuk kalangan Muslim awam. Karena itu, Nabi terkadang membasuh mani, dan terkadang juga mengeroknya. Ini untuk membuat kategori syariat bagi ulama besar dan orang awam. Pahamilah pendapat Imam Sya‘rani ini dalam kitab al-Mizan.â€
Editor: Jandri
Sumber: Islami.co
Komentar Anda :