Kolom
Dirgahayu Indonesia ke 74 dan Memaknai Kemerdekaan
Sabtu, 17 Agustus 2019 - 08:20:31 WIB
HARI INI Sabtu, 17 Agustus 2019, usia kemerdekaan Indonesia genap 74 tahun. Masyarakat di seantero negeri ini memeperingati HUT kemerdekaan melalui upacara pengibaran bendera merah putih.
Upacara yang kita ikuti dan dilaksanakan di berbagai tempat itu, intinya ingin nengenang peristiwa dan merasakan secara simbolis peletak landasan moral kultural, dan nasionalis dari eksistensi kemerdekaan 74 tahun silam.
Bahkan tidak cukup dengan upacara, berbagai perayaan sebagai aktualisasi kecintaan, rasa hormat dan pengahragaan setingginya juga diberikan kepada para pejuang mendapatkan kemerdekaan dengan pengorbanan air mata, harta, darah dan nyawa.
Tidak pula cukup sampai disitu, ini merupakan bagian dari upaya mengabadikan peristiwa yang terjadi masa lalu, yang diungkapkan dan dimaknai sebagai pesan kemerdekaan.
Tegasnya, hingga 74 tahun Indonesia merdeka, kita masih bisa menikmati pembangunan negeri ini seperti yang kita rasakan saat ini dan gegap gempita meraya hari ulang tahun kemerdekaan.
Namun, tentu saja tidak bebas dari semua persoalan. Masih ada persoalan yang rumit dan komplek dihadapi bangsa ini. Namun, kita tidak ingin persoalan ini ditangkap sebagai sebuah pesan kontradiksi dari harapan ruh kemerdekaan itu akibat perilaku kita. Ini perlu kita renungkan sejenak.
Karena, di sisi lain mungkin masih ada diantara kita yang merasa belum merdeka (dalam makna yang luas) atau belum sadar atas apa yang dilakukan. Sehingga upacara yang dilaksanakan setiap tahun hanya sekedar ritual belaka. Kita tidak bisa men-judge, apakah itu termasuk golongan yang dianggap sudah mamaknai kemerdekaan atau belum.
Kita juga tidak ingin berpolemik dan kontra produktif terhadap berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam mengisi kemerdekaan ini. Namun, diakui atau tidak, hingga upacara memperingati hari kemeredekaan ke 74 RI ini masyarakat masih banyak yang gusar karena problema negeri ini.
Dan tidak mengherankan, mungkin itu bagian pengalaman yang mengecewakan di era kemerdekaan ini.
Terlepas dari itu semua, menurut saya memaknai kemerdekaan ini kita perlu memahami secara sadar, bahwa kita bagian dari bangsa ini, hidup dalam kecintaan terhadap negara dan bangsa.
Karena nasib bangsa kita mendatang tergantung masa kini. Jangan hanya kesadaran kamuflase dan palsu yang hanya diwujudkan dengan upacara setiap 17 Agustus.
Keberhasilan bangsa kita tidak sebatas dengan kata-kata seperti diucapkan sang Proklamator Soekarno ketika megawali pidato pada tanggal 17 Agustus 1954 , tepatnya 10 tahun Indonesia merdeka, yang mengatakan "Keberhasilan negara dan bangsa kita berkat Tuhan yang Maha Esa. Tampa kecemasan akan masa depan? Sekarang, berkat Tuhan yang Maha Esa yes!, tapi kita harus ikut mewarnainya. Memulai dari diri sendiri. Dirgahayu Republik Indonesia ke-74.
Penulis: Khairullah [Wartawan suluhriau.com yang juga mantan wartawan Riau Mandiri/Haluan Riau]
Komentar Anda :