Senin, 17 Agustus 2026 Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti | Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap | Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
 
 
☰ Ekbis
RI Tunggak Proyek Jet Tempur Rp3 Triliun dengan Korsel, Apa Dampaknya?
Rabu, 24 Oktober 2018 - 09:53:46 WIB

SULUHRIAU- Pemerintah Indonesia belum melunasi kewajiban pembayaran US$200 juta atau sekitar Rp3 triliun dalam proyek pengembangan prototipe pesawat tempur dengan Korea Selatan.

Perekonomian nasional yang tak stabil menjadi dasar tunggakan utang itu. Akibatnya, target pengembangan kekuatan tempur TNI Angkatan Udara diperkirakan akan meleset.

Sekjen Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya Hadiyan Sumintaatmadja, menyebut tunggakan itu bakal mengurangi jumlah pesawat tempur yang akan didapatkan Indonesia.
 
"Kemarin rencananya paling tidak bisa dapat tiga skuadron tempur untuk TNI AU, tapi dengan renegoisasi ini, mungkin jumlahnya akan dikurangi," kata Hadiyan kepada BBC News Indonesia, Selasa (23/10).

Target pengembangan kekuatan tempur TNI AU masuk dalam rencana memenuhi kekuatan minimum pertahanan (MEF) tahun 2024.

Hingga 2019, MEF Indonesia baru akan mencapai sekitar 40%.

Pembentukan skuadron udara baru dan peremajaan pesawat tempur adalah program menuju MEF yang dikejar melalui kerja sama dengan Korsel.

Utang Indonesia ini muncul dalam kerja sama dengan perusahaan manufaktur dirgantara Korsel, Korea Aerospace Industries (KAI).

Kesepakatan itu berbasis kontrak perjanjian bagi ongkos.

Dalam kerja sama ini, Korsel akan mendapatkan empat protipe jet tempur Korean Fighter Experimental (KF-X), sedangkan Indonesia satu unit protipe.

Saat dua tahap perjanjian ini diteken tahun 2015 dan 2016, Indonesia menargetkan pembentukan beberapa skadron tempur KF-X.

Kerja sama itu juga diklam memungkinkan alih teknologi kepada sekitar 200 insinyur Indonesia yang akan dikirim ke Korsel.

Dua kontraktor utama dalam proyek ini adalah KAI dan perusahaan asal Amerika Serikat, Lockheed Martin. Korporasi itu adalah produsen pesawat tempur seri Fighting Falcon.

Korsel adalah salah satu pelanggan pelanggan Lockhead. Seluruh pesawat tempur mereka berseri Fighting Falcon.

Proyek Korsel mengembangkan KF-X yang bermitra dengan Indonesia ditujukan untuk menggantikan deretan pesawat F-4 dan F-5 milik mereka yang telah uzur.

Hadiyan mengatakan, Menko Polhukam Wiranto tengah membentuk tim gabungan untuk bernegoisasi dengan Korsel. Pembahasan ulang klausul kerja sama itu ditargetkan selesai setidaknya dalam satu tahun ke depan.

"Mudah-mudahan tidak ada target waktu yang mundur karena Korea mau proyek ini jalan terus," ujar Hadiyan.

Merujuk perjanjian awal, lima prototipe yang hendak dibuat ditargetkan selesai tahun 2020.
Menurut peneliti kajian strategis dari Universitas Padjajaran, Muradi, Korsel tak sepatutnya mempublikasikan tunggakan Indonesia dalam suatu proyek pertahanan.

Muradi menilai sejak awal Korsel terlihat ragu meminang Indonesia menjadi salah satu pihak dalam kerja sama ini. "Korsel butuh pasar industri pertahanan di Asia Tenggara, tapi selalu tanya apakah Indonesia punya uang atau tidak."

"Itu tidak etis. Atase pertahanannya berulang kali mengatakan itu ke anggota DPR dan sejumlah pakar," kata Muradi.

Rencana renegoisasi perjanjian, kata Muradi, dapat dilihat sebagai upaya Indonesia mengulur waktu sebelum akhirnya membatalkan kerja sama ini.

Alasannya, selain soal anggaran, Indonesia dapat lebih untung jika membeli pesawat tempur dibandingkan terlibat dalam proyekpengembangan teknologi jet.
Apalagi, pesawat tempur Indonesia semakin tertinggal dari segi teknologi.

Meski mahal, Indonesia disebunya mempunyai opsi membeli jet tempur berteknologi terkini dari Lockhead Martin, Sukhoi (Rusia), dan Saab (Swedia). "Ada peribahasa, Angkatan Darat ujung tombaknya manusia, tapi Angkatan Udara bergantung pada teknologi. Memang tidak murah, tapi perlu penekanan bahwa sistem pertahanan udara nasional perlu infrastruktur," kata Muradi.

Sebelumnya Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Lembong, menyebut kerja sama pesawat KF-X dengan Korsel ini berpotensi membebani APBN dan menguras cadangan devisa Indonesia. "Beban kepada APBN cukup besar, apalagi jangka panjang. Terus terang puluhan triliun dan kalau beli puluhan unit (pesawat tempur) bisa sampai ratusan triliun," kata Lembong, pekan lalu.

Dalam skema kerja sama yang diteken tahun 2016, total biaya yang ditanggung Indonesia dalam kerja sama ini berkisar Rp18 hingga Rp21,6 triliun.

Sumber: Viva.co.id, BBC News Indonesia | Editor: Jandri




 
Berita Lainnya :
  • Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti
  • Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti
    02 Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap
    03 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    04 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    05 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    06 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    07 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    08 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    09 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    10 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    11 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    12 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    13 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    14 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    15 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    16 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    17 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    18 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    19 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    20 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    21 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    22 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat