Senin, 17 Agustus 2026 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
 
 
☰ Sosial Budaya
Gempa Bumi di Masa Lalu dalam Tafsiran Lisan dan Manuskrip Kuno
Minggu, 07 Oktober 2018 - 16:02:26 WIB

SULUHRIAU- Peneliti sejarah kegempaan Sumatera Barat, Yose Hendra menyebutkan jika kejadian gempa bumi, baik dulu maupun sekarang, sering diinterpretasikan dengan cara yang berbeda dari sudut pandang menurut paham tertentu.

Bahkan, ingatan kolektif gempa masa lalu, banyak dikisahkan secara turun-temurun melalui pelbagai tafsiran baik itu secara lisan maupun dalam bentuk manuskrip atau tulisan tangan dari orang-orang terdahulu.

Salah satunya, kata Yose, dapat dilihat dari Alquran sebagai naskah lama yang juga merupakan kitab suci umat Islam. Di dalam Alquran ini, gempa bumi dijelaskan dalam puluhan surat dan ayat.

"Orang-orang kampung di negeri Minangkabau yang masih berpikiran tradisional pada masa dahulu, cenderung menganggap gempa adalah takdir yang telah digariskan dalam Alquran atau pun kitab kuning yang dipercayai," kata Yose, Sabtu 6 Oktober 2018.

Bahkan, mereka pasrah menghadapi datangnya bencana itu. Surau pun menjadi pilihan tempat berlindung kala gempa bumi melanda. Nah, pemikiran inilah yang kemudian memberikan sudut pandang kearifan lokal dalam menyikapi gempa tersebut.

Bisa dimaknai, apakah masyarakat kala itu, memiliki pemikiran pengurangan risiko bencana, atau sebaliknya merupakan pertanda untuk lebih mensyukuri dan lebih religius.

Lalu, bagaimana dengan ingatan masyarakat di Minangkabau tentang hal itu. Yose menjelaskan, jika sejumlah naskah tentang gempa yang ditemukan oleh para filolog terdahulu, dapat menjadi gambaran jika gempa bumi itu merupakan sebuah peristiwa bencana alam yang berulang-ulang terjadi di Ranah Minang maupun wilayah lain di Indonesia.

Tentunya, dengan penafsiran dan prakiraan setelah kejadian gempa. Maka dari itu, teks gempa yang lahir menggambarkan jiwa zaman saat itu, persisnya proses pemikiran, pemaknaan, individu dan komunitas yang melahirkannya.

Yose menjelaskan, dalam penelitian yang pernah ia lakukan, saat gempa menghantam Kota Padangpanjang dan sekitarnya pada 1926, seorang penulis kondang Minangkabau bernama Mahmoed Joenoes, menjadikan peristiwa itu sebagai landasan untuk memperkaya Tafsir Koeran Indonesia, buku tafsir yang ia tulis sejak 1921.

"Dalam tafsir tersebut, Joenoes menuliskan jika persoalan gempa bumi ini telah dijelaskan Allah SWT dalam surat Az-Zalzalah, yang berarti keguncangan," ujar Yose.

Dalam surat Al Fajr ayat 21, kata Yose, juga dijelaskan tentang bencana gempa bumi ini. Ayat ini berbunyi, 'kallaa idzaa dukkati al-ardhu dakkan dakkaan' Artinya, jangan (berbuat demikian) apabila bumi diguncangkan berturut-turut.

Menurut ulama M. Quraish Shihab, makna ayat ini adalah menghantam sesuatu sehingga menghancurkannya. Pengulangan kata 'dakkan' merupakan isyarat bahwa penghancuran itu benar-benar akan terjadi, atau untuk mengisyaratkan berulangnya penghancuran itu, masing-masing wilayah atau gunung dihancurkan sehingga benar-benar hancur.

"Jika ditinjau berdasarkan ilmu Geofisika, kata 'dakkan' dalam surat Al Fajr ayat 21 itu, dapat dimaknai terangkatnya kerak bumi yang berupa lempeng tektonik yang berada di atas fluida bawah permukaan yang sangat panas. Lempeng tektonik ini bergerak relatif satu sama lain. Adanya aliran panas yang mengalir di dalam atmosfer yang berupa arus konveksi yang merupakan sumber kekuatan utama yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng," terang Yose.

"Seringkali, gempa juga dikaitkan dengan gerhana, lalu ada prediksi kejadian setelah gempa yang dipandang dari sisi mitologi, ideologi, dan sains. Seperti halnya Alquran, para ulama juga menuliskan gempa yang terjadi saat itu dengan tafsiran (tahwil) seperti di atas," kata Yose

Selain telah digariskan dalam Alquran dan manuskrip yang ditulis ulama tarekat, Yose menilai bukti nyata beberapa kejadian-kejadian gempa juga digoreskan dalam catatan pejabat kolonial Belanda serta ahli dari Eropa yang sedang bertugas di lokasi kejadian khususnya yang berada di pantai barat Sumatera.

Arthur Wichmann seorang Geolog dan Mineralog asal Jerman misalnya. Ia pernah mencatat adanya kejadian gempa yang disertai gelombang tsunami pada 1797. Catatannya itu kemudian dipublikasikan dalam Wichmann, A. Die Edbeben des Indischen Archipels bis zum Jahre pada 1857.

Selain itu, Residen Sumatera Barat pasca pengembalian dari Inggris sesuai Traktat London pada 1814, James du Puy, juga pernah mewariskan sepenggal catatan mengenai peristiwa gempa 1797 serta kejadian gempa dan tsunami pada 1833.

"Pengalaman du Puy merasakan gempa tersebut ia catat dan diterbitkan menjadi sebuah kumpulan laporan di tahun 1845 dan 1847. Tahun 1845 laporan mengenai gunung api dan gempa bumi di Sumatera juga dipublikasikan dengan judul Een aantekeningen omtrent vuurbergen en aardbevingen op Sumatra Tijdschrift voor Neerland's Indie," ujar Yose.

Sumber: Viva.co.id | Editor: Jandri





 
Berita Lainnya :
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    02 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    03 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    04 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    05 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    06 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    07 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    08 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    09 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    10 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    11 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    12 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    13 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    14 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    15 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    16 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    17 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    18 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    19 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    20 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    21 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    22 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat