Kamis, 01 Oktober 2026 Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian | Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri | Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar | Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto | Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu | Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
 
 
☰ Sosial Budaya
Kapitra Sesalkan Respons Emosional Usai Pertemuan PA 212-Jokowi
Jumat, 27 April 2018 - 20:18:38 WIB

SULUHRIAU- Pengacara Habib Rizieq, Kapitra Ampera, menyesalkan sikap Persaudaraan Alumni 212 yang dinilai terlalu emosional dalam merespons terkuaknya pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kapitra mengatakan pertemuan dengan Jokowi merupakan rangkaian komunikasi yang telah dibangunnya untuk menyelesaikan kasus kriminalisasi ulama.

"Presiden sudah merespons dengan baik, dan jawabannya saat ditanya wartawan sangat elegan. Cuma yang saya sesalkan, respons ulama sangat emosional dan menyerang, sampai menuding presiden tidak bisa terima kasih. Ini justru memperkeruh. Jadi pertemuan dua jam yang apik dan penuh kebaikan, rusak karena 30 menit konferensi pers," kata Kapitra di Masjid Al Ittihaad, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (27/4/2018).

Kapitra menyampaikan perwakilan PA 212 yang bertemu Presiden di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/4) adalah anggota Tim Sebelas. Tim tersebut sengaja dibentuk Habib Rizieq untuk berkomunikasi dengan Pemerintah guna mencari jalan keluar masalah kriminalisasi ulama.

"Dibentuk Habib Rizieq Tim 11. Yang datang ke Istana kemarin hanya enam orang anggota Tim Sebelas. Yang ngomong di konferensi pers itu, ketuanya, pun tidak datang ke Istana. Yang hadir ada Abah Rauf, Slamet Maarif, Al-Khaththath, Usamah Hisyam, Shobri Lubis dan Yusuf Martak," ucap Kapitra.

Kapitra lalu menceritakan awal dirinya membangun komunikasi dengan Pemerintah untuk menyudahi kasus kriminalisasi ulama. Kapitra mengatakan ada pertemuan antara ulama dengan Jokowi pada momen Lebaran 2017. Dalam pertemuan itu masing-masing pihak menyampaikan pendangannya.

"(Pertemuan dengan Jokowi) Itu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari pertemuan Lebaran, ketika kita yang tergabung dalam GNPF waktu itu datang ke Istana. Lalu kita bicara dalam perspektif masing-masing, baik dari presiden maupun dari kitanya. Lalu kita sampaikan problem antara masyarakat dan presiden, presiden menyampaikan program-programnya untuk masyarakat," ujar Kapitra.

Dalam pertemuan terdahulu dengan Jokowi, kata Kapitra, muncul satu kesimpulan bahwa antara ulama dan pemimpin harus bersatu membangun Indonesia. Namun saat itu dibicarakan adanya ganjalan dalam hubungan ulama dengan pemerintah, yaitu kriminalisasi.

"Bertemulah satu konslusi bahwa antara ulama dan umara (penguasa) itu harus bersatu membangun bangsa. Karena ada ganjalan peristiwa yang dicari-cari, kesalahan aktivis-aktivis ulama atas demo penegakan hukum, maka ini harus dituntaskan. Karena setelah Aksi 212 itu harusnya sudah clear dan clean. Tetapi akibat dari situ, muncul kriminalisasi ulama sehingga menjadi masalah hukum," terang Kapitra.

"Itu kita sampaikan ke Presiden dan setelah itu ada proses lanjutan. Pertama presiden mengevaluasi seluruh kasus yang ada, apakah itu merupakan peristiwa pidana atau tidak.
Ini berlanjut terus komunikasi antara negara, Pemerintah dan Habib Rizieq. Dan saya yang ditunjuk untuk menindaklanjuti evaluasi dalam pengertian-pengertian perkara yang tak memenuhi unsur delik," sambung dia.

Kapitra menjelaskan pertemuan dengan presiden ditindaklanjuti dengan komunikasi ke Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menko Polhukam Wiranto dan jajaran Badan Intelegen Negara (BIN). "Sampai pada titik kesimpulan bahwa kita sepakatilah artinya 'rekonslisiasi' antara ulama dan umara," tutur Kapitra.

Kapitra melanjutkan, dirinya bertemu denga Jokowi dalam satu acara di Hotel Bidakara pada 25 Februari lalu. Di situ Jokowi mengungkapkan keinginannya untuk bertemu Kapitra, yang dianggap Jokowi sebagai jembatan komunikasi dengan para ulama.

"Tanggal 25 Februari, Presiden ketemu saya di Hotel Bidakara. Presiden bilang ke saya, 'Pak Kapitra, kita kumpul-kumpul lagi di Istana. Dari situ saya berangkat ke Mekah dan menyampaikan ke Habib Rizieq, ada keinginan itu. Dan saya juga sampaikan ke Kapolri dan Pak Wiranto. Setelah ketemu Presiden di Bidakara, dua hari kemudian, lewat Pak Wiranto menghadap ke Istana," cerita Kapitra.

Kapitra menyebut pertemuan PA 212 dan Jokowi kemarin juga tak lepas dari peran Tito dan Wiranto yang merekomendasikan adanya dialog dengan ulama. Kapitra menerangkan tujuan dari pertemuan-pertemuan dengan Jokowi adalah agar ulama dapat menyampaikan langsung apa yang menjadi masalah dengan Pemerintah.

"Tanpa komunikasi dan restu Kapolri serta Menko Polhukam, itu tak akan bertemu. Presiden itu mau berkomunikasi karena sudah berbicara dengan pak Wiranto dan Pak Tito. Dua orang ini memberikan saran, pertimbangan untuk menerima. Saya ingin mencairkan komunikasi ulama dengan Presiden supaya Presiden mendengarkan langsung keluhan ulama," tutur Kapitra.

Sumber: detik.com | Editor: Jandri




 
Berita Lainnya :
  • Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian
  • Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
  • Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
  • Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
  • Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian
    02 Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
    03 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
    04 Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
    05 Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
    06 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    07 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    08 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    09 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    10 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    11 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    12 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    13 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    14 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    15 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    16 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    17 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    18 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    19 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    20 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    21 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
    22 Diikuti 50 Kepala Sekolah, PWI Kepulauan Meranti Taja Pelatihan dan Seminar Jurnalistik
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat