Senin, 17 Agustus 2026 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
 
 
☰ Sosial Budaya
Kapitra Sesalkan Respons Emosional Usai Pertemuan PA 212-Jokowi
Jumat, 27 April 2018 - 20:18:38 WIB

SULUHRIAU- Pengacara Habib Rizieq, Kapitra Ampera, menyesalkan sikap Persaudaraan Alumni 212 yang dinilai terlalu emosional dalam merespons terkuaknya pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kapitra mengatakan pertemuan dengan Jokowi merupakan rangkaian komunikasi yang telah dibangunnya untuk menyelesaikan kasus kriminalisasi ulama.

"Presiden sudah merespons dengan baik, dan jawabannya saat ditanya wartawan sangat elegan. Cuma yang saya sesalkan, respons ulama sangat emosional dan menyerang, sampai menuding presiden tidak bisa terima kasih. Ini justru memperkeruh. Jadi pertemuan dua jam yang apik dan penuh kebaikan, rusak karena 30 menit konferensi pers," kata Kapitra di Masjid Al Ittihaad, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (27/4/2018).

Kapitra menyampaikan perwakilan PA 212 yang bertemu Presiden di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/4) adalah anggota Tim Sebelas. Tim tersebut sengaja dibentuk Habib Rizieq untuk berkomunikasi dengan Pemerintah guna mencari jalan keluar masalah kriminalisasi ulama.

"Dibentuk Habib Rizieq Tim 11. Yang datang ke Istana kemarin hanya enam orang anggota Tim Sebelas. Yang ngomong di konferensi pers itu, ketuanya, pun tidak datang ke Istana. Yang hadir ada Abah Rauf, Slamet Maarif, Al-Khaththath, Usamah Hisyam, Shobri Lubis dan Yusuf Martak," ucap Kapitra.

Kapitra lalu menceritakan awal dirinya membangun komunikasi dengan Pemerintah untuk menyudahi kasus kriminalisasi ulama. Kapitra mengatakan ada pertemuan antara ulama dengan Jokowi pada momen Lebaran 2017. Dalam pertemuan itu masing-masing pihak menyampaikan pendangannya.

"(Pertemuan dengan Jokowi) Itu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari pertemuan Lebaran, ketika kita yang tergabung dalam GNPF waktu itu datang ke Istana. Lalu kita bicara dalam perspektif masing-masing, baik dari presiden maupun dari kitanya. Lalu kita sampaikan problem antara masyarakat dan presiden, presiden menyampaikan program-programnya untuk masyarakat," ujar Kapitra.

Dalam pertemuan terdahulu dengan Jokowi, kata Kapitra, muncul satu kesimpulan bahwa antara ulama dan pemimpin harus bersatu membangun Indonesia. Namun saat itu dibicarakan adanya ganjalan dalam hubungan ulama dengan pemerintah, yaitu kriminalisasi.

"Bertemulah satu konslusi bahwa antara ulama dan umara (penguasa) itu harus bersatu membangun bangsa. Karena ada ganjalan peristiwa yang dicari-cari, kesalahan aktivis-aktivis ulama atas demo penegakan hukum, maka ini harus dituntaskan. Karena setelah Aksi 212 itu harusnya sudah clear dan clean. Tetapi akibat dari situ, muncul kriminalisasi ulama sehingga menjadi masalah hukum," terang Kapitra.

"Itu kita sampaikan ke Presiden dan setelah itu ada proses lanjutan. Pertama presiden mengevaluasi seluruh kasus yang ada, apakah itu merupakan peristiwa pidana atau tidak.
Ini berlanjut terus komunikasi antara negara, Pemerintah dan Habib Rizieq. Dan saya yang ditunjuk untuk menindaklanjuti evaluasi dalam pengertian-pengertian perkara yang tak memenuhi unsur delik," sambung dia.

Kapitra menjelaskan pertemuan dengan presiden ditindaklanjuti dengan komunikasi ke Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menko Polhukam Wiranto dan jajaran Badan Intelegen Negara (BIN). "Sampai pada titik kesimpulan bahwa kita sepakatilah artinya 'rekonslisiasi' antara ulama dan umara," tutur Kapitra.

Kapitra melanjutkan, dirinya bertemu denga Jokowi dalam satu acara di Hotel Bidakara pada 25 Februari lalu. Di situ Jokowi mengungkapkan keinginannya untuk bertemu Kapitra, yang dianggap Jokowi sebagai jembatan komunikasi dengan para ulama.

"Tanggal 25 Februari, Presiden ketemu saya di Hotel Bidakara. Presiden bilang ke saya, 'Pak Kapitra, kita kumpul-kumpul lagi di Istana. Dari situ saya berangkat ke Mekah dan menyampaikan ke Habib Rizieq, ada keinginan itu. Dan saya juga sampaikan ke Kapolri dan Pak Wiranto. Setelah ketemu Presiden di Bidakara, dua hari kemudian, lewat Pak Wiranto menghadap ke Istana," cerita Kapitra.

Kapitra menyebut pertemuan PA 212 dan Jokowi kemarin juga tak lepas dari peran Tito dan Wiranto yang merekomendasikan adanya dialog dengan ulama. Kapitra menerangkan tujuan dari pertemuan-pertemuan dengan Jokowi adalah agar ulama dapat menyampaikan langsung apa yang menjadi masalah dengan Pemerintah.

"Tanpa komunikasi dan restu Kapolri serta Menko Polhukam, itu tak akan bertemu. Presiden itu mau berkomunikasi karena sudah berbicara dengan pak Wiranto dan Pak Tito. Dua orang ini memberikan saran, pertimbangan untuk menerima. Saya ingin mencairkan komunikasi ulama dengan Presiden supaya Presiden mendengarkan langsung keluhan ulama," tutur Kapitra.

Sumber: detik.com | Editor: Jandri



 
Berita Lainnya :
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    02 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    03 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    04 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    05 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    06 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    07 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    08 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    09 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    10 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    11 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    12 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    13 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    14 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    15 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    16 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    17 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    18 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    19 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    20 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    21 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    22 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat