Jumat, 02 Oktober 2026 Satresnarkoba Polresta Pekanbaru Bekuk Pengedar 122 Pil Ekstasi di Parkiran Hotel | Terungkap Dalam Sidang Tipikor, Saksi Ungkap Suhardiman Bahas Land Cruiser Jelang Penetapan Sekda | Inflasi Riau September 2026 2,79 Persen, Dipicu Perawatan Pribadi dan Transportasi | Evaluasi Tarif Paten dan Hak Cipta, Kanwil Kemenkum Riau Dukung Layanan KI Lebih Inklusif | Kanwil Kemenkum Riau Monitoring Pelaksanaan Bantuan Hukum bagi Warga Binaan di Rutan Pekanbaru | Usai Upacara Hari Kesaktian Pancasula, Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Pidato Kebangsaan Via Virtual
 
 
☰ Peristiwa
Ilmuwan Temukan Fosil Burung Terkecil yang Hidup 127 Juta Tahun Lalu
Rabu, 07 Maret 2018 - 10:06:35 WIB

SULUHRIAU- Para ilmuwan mengungkapkan mereka telah menemukan fosil burung terkecil di dunia.

Bayi burung itu hidup 127 juta tahun yang lalu dan tergolong ke dalam kelompok burung primitif yang hidup bersama-sama dengan dinosaurus.

Fosil burung dari periode ini tergolong jarang, dan fosil-fosil anak unggas lebih langka lagi, "paling langka di antara yang langka".

Para ilmuwan mengatakan penemuan fosil burung itu memungkinkan mereka menelaah lebih jauh kehidupan unggas purba yang sudah punah, yang hidup antara 250 dan 66 juta tahun yang lalu.

Unggas itu termasuk dalam keluarga enantiornithine, yang sebagian besar memiliki gigi dan cakar di masing-masing sayapnya, namun secara keseluruhan tampak seperti burung modern.

"Sangat menakjubkan ketika menyadari bahwa banyak jenis burung yang kita lihat di antara unggas-unggas sekarang ini ternyata sudah berkembang sejak lebih dari 100 juta tahun yang lalu," kata Luis Chiappe, dari Museum Sejarah Alam, Los Angeles.

Burung itu mati tidak lama setelah menetas dari telurnya.

Para periset dari Inggris, Spanyol, Swedia dan Amerika Serikat menggunakan teknologi mutakhir untuk mempelajari tulang fosilnya.

Analisis dalam sinkrotron - partikel yang menggunakan cahaya sangat intens untuk mempelajari minute matter - mengungkapkan bahwa anak unggas itu mungkin belum bisa terbang pada tahap ini.

Tulang rawan pada sternum (tulang dada di tengah) belum sepenuhnya mengeras menjadi tulang.

Peneliti utama Fabien Knoll dari ARAID-Dinopolis dan University of Manchester mengatakan bahwa analisis perkembangan tulang dapat digunakan untuk mempelajari sejumlah karakteristik evolusioner.

"Teknologi baru menawarkan kemampuan paleontologi yang belum pernah ada sebelumnya untuk menyelidiki kerangka-kerangka itu," katanya.

Kerangka-kerangka tersebut ditemukan bertahun-tahun yang lalu di situs Las Hoyas yang terkenal di Spanyol. Namun, sebagian besar baru diteliti sekarang.

"Teknik yang kami gunakan untuk menganalisisnya di kertas (seperti mikrotomografi sinkrotron dan pemetaan unsur) belum dikembangkan saat spesimen itu ditemukan," kata Dr Knoll.

Mempelajari proses perkembangan tulang bisa banyak menjelaskan tentang kehidupan dan perkembangan anak burung. Bayi unggas zaman purba ini mungkin sudah seperti ayam modern, yang memiliki bulu dan bisa bergerak sejak lahir.

Atau bisa juga lebih mirip dengan burung-burung lainnya, yang menetas tanpa bulu dengan mata tertutup, yang berarti membutuhkan pengasuhan dari induknya.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications menunjukkan bahwa enantiornithines atau keluarga unggas memang sangat beragam dalam perilaku serta perkembangannya.

Sumber: BBCIndonesia.com | Editor: Jandri




 
Berita Lainnya :
  • Satresnarkoba Polresta Pekanbaru Bekuk Pengedar 122 Pil Ekstasi di Parkiran Hotel
  • Terungkap Dalam Sidang Tipikor, Saksi Ungkap Suhardiman Bahas Land Cruiser Jelang Penetapan Sekda
  • Inflasi Riau September 2026 2,79 Persen, Dipicu Perawatan Pribadi dan Transportasi
  • Evaluasi Tarif Paten dan Hak Cipta, Kanwil Kemenkum Riau Dukung Layanan KI Lebih Inklusif
  • Kanwil Kemenkum Riau Monitoring Pelaksanaan Bantuan Hukum bagi Warga Binaan di Rutan Pekanbaru
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Satresnarkoba Polresta Pekanbaru Bekuk Pengedar 122 Pil Ekstasi di Parkiran Hotel
    02 Terungkap Dalam Sidang Tipikor, Saksi Ungkap Suhardiman Bahas Land Cruiser Jelang Penetapan Sekda
    03 Inflasi Riau September 2026 2,79 Persen, Dipicu Perawatan Pribadi dan Transportasi
    04 Evaluasi Tarif Paten dan Hak Cipta, Kanwil Kemenkum Riau Dukung Layanan KI Lebih Inklusif
    05 Kanwil Kemenkum Riau Monitoring Pelaksanaan Bantuan Hukum bagi Warga Binaan di Rutan Pekanbaru
    06 Usai Upacara Hari Kesaktian Pancasula, Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Pidato Kebangsaan Via Virtual
    07 Prabowo Lantik Suyudi Jadi Kapolri, Listyo Sigit Bergeser ke KSP, Ini Daftar Lengkap Posisi Pejabat
    08 Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian
    09 Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
    10 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
    11 Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
    12 Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
    13 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    14 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    15 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    16 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    17 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    18 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    19 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    20 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    21 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    22 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat