Selasa, 18 Agustus 2026 Mafirion: Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat | Dibalut Pakaian Adat Nusantara, Upacara HUT ke-81 RI di Pemko Pekanbaru Berlangsung Khidmat | Di Balai Pauh Janggi, Kemenkum Riau Serahkan Remisi HUT ke-81 RI untuk Narapidana | Peringati HUT ke-81 RI, Kemenkum Riau Tegaskan Komitmen Layani Rakyat dengan Integritas | Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti | Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap
 
 
☰ Peristiwa
Dalam 16 Tahun, 100 Ribu Orangutan Terbunuh
Jumat, 16 Februari 2018 - 16:20:58 WIB
(Supplied: Marc Ancrenaz)
TERKAIT:
 
 

SULUHRIAU- Sekitar setengah dari jumlah orangutan di Pulau Kalimantan terbunuh atau pindahkan dari habitatnya antara tahun 1999 dan 2015.

"Itu merupakan kehilangan yang sangat besar," kata Profesor Serge Wich dari Liverpool John Moores University, salah satu penulis penelitian yang diterbitkan di jurnal Current Biology hari ini (16/2/2018).

"Angka ini lebih tinggi dari perkiraan dan kami mendasarkannya pada penelitian sebelumnya," ujar Profesor Wich.

Maria Voigt dari Max Plank Institute for Evolutionary Anthropology turut menulis laporan penelitian yang mengumpulkan data dari 38 lembaga internasional.

"Kami menggunakan data survei orangutan yang sangat luas untuk memodelkan persebaran mereka. Selain itu juga menemukan bahwa mereka mengalami penurunan lebih dari 100.000 ekor," kata Voigt.

"Kehilangan 50 persen (orangutan)," ujarnya.

Berdasarkan data mereka, Voigt mengatakan sekitar 70.000 sampai 100.000 orangutan yang tersisa di alam liar di Kalimantan.

Profesor Wich menjelaskan penurunan jumlah tersebut dihitung dengan menggabungkan survei sarang orangutan. "Penelitian yang kami lakukan memanfaatkan 16 data survei lokasi orangutan di Kalimantan," katanya.

"Di pulau besar seperti Kalimantan, tidak mungkin menjelajahi setiap pelosok hutan," tambah Prof Wich.

Tim peneliti mengisi kekosongan dengan melihat peta perubahan penggunaan lahan dan ancaman lainnya yang berdampak pada populasi orangutan.

Mereka memeriksa bagaimana perubahan tersebut mempengaruhi populasi di daerah yang memiliki data survei sarang.

Mereka kemudian menggunakan hasil data untuk memperkirakan bagaimana spesies tersebut tersebar di seluruh pulau.

"Kami menggunakan banyak tingkatan penggunaan lahan, tingkatan ancaman, seperti kepadatan populasi manusia, untuk memprediksi kepadatan di daerah yang tidak kami datangi," jelas Prof Wich.

Data menunjukkan ternyata jumlah orangutan lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya, namun jumlah yang terbunuh juga lebih besar.

"Pada tahun 1999, jumlah orangutan lebih banyak daripada yang kita duga," kata Prof Wich.

"Tapi juga kita telah kehilangan lebih dari yang kita perkirakan. Jadi seperti pedang bermata dua," ujarnya lagi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan menyebabkan seluruh populasi orangutan punah di beberapa tempat.
"Terjadi kehilangan paling parah di daerah kehilangan habitat, di mana terjadi deforestasi dan konversi," kata Voigt.

Namun, dia mengatakan hal ini hanya sekitar 10 persen dari jumlah orangutan yang mati.

Dalam hal jumlah, disebutkan bahwa lebih orangutan yang mati di hutan yang tersisa dan sebagian wilayah berhutan.

Para peneliti percaya bahwa hal ini terutama disebabkan oleh aktivitas perburuan.

"Ini temuan yang sangat penting, karena mendukung penelitian sebelumnya bahwa pembunuhan dan perburuan adalah masalah besar. Bahkan mungkin merupakan penyebab terbesar selama periode ini," kata Voigt.

Prof Wich mengatakan sekitar 70 persen dari jumlah orangutan yang terbunuh berasal dari daerah berhutan.

"Berburu jadi persoalan yang meluas," katanya.

"Orangutan sering ditembak saat aktivitas perkebunan, saat mereka membuka pertanian skala kecil," jelasnya.

"Kita tidak menyadari bahwa masalah ini ternyata besar sekali," kata Prof Wich.

Ajun Profesor Erik Meijaard dari University of Queensland dan kelompok konservasi berbasis di Brunei, Borneo Futures, juga salah seorang penulis laporan penelitian ini.

Dia mengatakan telah menyoroti dampak perburuan selama dekade terakhir, setelah mengetahui banyak orang di Kalimantan membunuh orangutan untuk makanan.

"Mereka sering mengatakan kepada saya daging orangutan itu rasanya enak dan gurih," kata Dr. Meijaard.

"Penelitian kami saat ini menunjukkan bahwa kita secara kolektif gagal mengatasi ancaman paling penting, dan karena itu populasi orangutan terus berkurang di Kalimantan," ujarnya.

Prof Wich menjelaskan tim peneliti juga mencontohkan bagaimana populasi orangutan yang tersisa di Kalimantan akan meningkat selama tahun-tahun mendatang. Hasilnya tidak menjanjikan. "Kami memeriksa potensi penurunan orangutan melalui penggundulan hutan di masa depan, sampai tahun 2050," katanya.

"Bisa jadi pada periode sekarang sampai saat itu, kita kehilangan sekitar 45.000 orangutan melalui penggundulan hutan saja," jelasnya.

"Kami bahkan belum memasukkan potensi kerugian melalui perburuan dalam proyeksi tersebut ke depan," tambahnya.

"Itulah kekhawatiran utama - bahwa kita tidak memperhatikannya, sehingga kita tidak mengembangkan strategi konservasi untuk mengekang perburuan," jelasnya.

Namun, Voigt menambahkan ada beberapa hal menjanjikan bagi orangutan, seperti sejumlah populasi yang berhasil dilindungi di hutan sekitar perkebunan Malaysia. "Ada kepadatan orangutan yang tinggi, dan juga satwa liar lainnya," kata Voigt.

Dia menjelaskan pertemuan pemangku kepentingan belum lama ini dan rencana aksi baru di Malaysia dan Indonesia dapat membantu spesies tersebut.

Prof Wich berharap peningkatan kesadaran akan mengarah pada peningkatan konservasi.
"Ada peningkatan kesadaran di Indonesia dan Malaysia bagi masalah lingkungan secara umum dibandingkan sebelumnya," katanya.

"Ada beberapa kolaborasi menjanjikan antara konservasi dan industri - baik industri kelapa sawit atau perusahaa



 
Berita Lainnya :
  • Mafirion: Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat
  • Dibalut Pakaian Adat Nusantara, Upacara HUT ke-81 RI di Pemko Pekanbaru Berlangsung Khidmat
  • Di Balai Pauh Janggi, Kemenkum Riau Serahkan Remisi HUT ke-81 RI untuk Narapidana
  • Peringati HUT ke-81 RI, Kemenkum Riau Tegaskan Komitmen Layani Rakyat dengan Integritas
  • Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Mafirion: Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat
    02 Dibalut Pakaian Adat Nusantara, Upacara HUT ke-81 RI di Pemko Pekanbaru Berlangsung Khidmat
    03 Di Balai Pauh Janggi, Kemenkum Riau Serahkan Remisi HUT ke-81 RI untuk Narapidana
    04 Peringati HUT ke-81 RI, Kemenkum Riau Tegaskan Komitmen Layani Rakyat dengan Integritas
    05 Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti
    06 Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap
    07 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    08 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    09 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    10 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    11 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    12 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    13 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    14 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    15 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    16 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    17 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    18 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    19 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    20 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    21 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    22 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat