SULUHRIAU- Mungkin banyak generasi muda warga Desa Alampanjang, Kecamatan Rumbio Jaya, belum tahu seperti apa cerita desa ini. Sekedar pengetahuan saja, sekelumit kami tuliskan melalui penuturan seorang tokoh Desa Alampang.
Desa Alampanjang hanyalah sebuah desa kecil yang boleh dibilang tidak masuk dalam peta buta pelajaran sejarah di sekolah (tempoe doeloe-red). Desa itu semula hanya sebuah bencah panjang.
Baru sekitar tahun 1980, Alampanjang berdiri sebagai desa. Luas desa itu sekitar 3.600 haktare, yang dihuni sekitar 2.780 jiwa. Nama Alampanjang, diberi salah seorang tokoh kampung amat tersohor, Abdul Karim, yang ketokohannya populer hingga ke luar wilayah desa itu.
Saat ini Desa Alampanjang terdiri dari empat dusun yakni Dusun Alampanjang, Dusun Tanjung Pulau Tinggi, Dusun Langgam dan Dusun Torok masuk wilayah Kecamatan Rumbio Jaya, Kabupaten-Kampar, Riau. Jika tidak ada Abdul Karim mungkin desa itu hanya dalam angan; mungkin saja!.
Dimasa kewedanaan Bangkinang sekitar tahun 1952, desa ini masuk dalam kenegerian Rumbio. Dari sisi orbitasi dari pusat pemerintahan tidak terlalu jauh, sekitar 45 km dari ibu Kota Provinsi Riau, Pekanbaru, dan 15 km dari Kabupaten Kampar dan 5 km dari ibu kota kecamatan. Tapi perhatian pemerintah kepada desa itu sungguh amat jauh.
Harus diakui, secara ekonomi maupun kualitas sumber daya manusia (SDM) dulunya, hampir tidak berarti apa-apa. Desa itu masih amat marjinal. Namun, keterpinggiran dari berbagai asfek itu, bukan berarti desa ini lalu mati. Sekitar pertengahan tahun 80-an, desa kecil ini justru amat harum namanya hingga ke pusat Ibu kota negara, Jakarta, melalui 'Kelompencapir Mawar Indah'.
Masa itu, para petinggi pemeritahan, baik daerah maupun pusat, boleh saja belum pernah datang ke desa itu, tapi ia mengenal nama desa itu, bahkan tidak asing di telinganya; Alampanjang, desa yang Kolempencapirnya yang sempat juara di arena ajang lomba di tingkat nasional itu?. Begitu orang-orang penting mengenangnya.
Kini kehidupan dan pemikiran masyarakat desa telah jauh berubah. Perkapita penduduk desa itu hampir setara dengan perkapita penduduk ibu kota Kabupaten, Kampar, Bangkinang. Penduduknya sebagian besar memiliki kebun sawit, kebun karet dan sebagian besar lagi sebagai pegawai negeri sipil dari berbagai tugas, jabatan serta berbagai profesi. Tidak kurang sekitar 300 orang penduduk kampung itu sarjana dari berbagai disiplin ilmu.
Desa kecil itu memiliki kisah sendiri bagi saya. Walaupun sekarang saya tidak lagi tinggal di desa dan dusun yang bernama Alampanjang itu. Namun, diusia saya sudah senja ini, desa itu tetap saja tidak bisa luput dari perhatian saya. Bahkan melahirkan inspirasi saya untuk tetap bisa mengabdi apa yang bisa saya perbuat bagi warga yang akan bermanfaat dikemudian hari.
Mungkin karena saya lahirkan dan dibesarkan di desa itu. Walupun, hidup saya masa kecil di tengah keluarga yang serba keterbatasan ekonomi. Tapi sedikitpun tidak ada penyeselan hidup bagi saya. Dari 12 bersaudara, tujuh perempuan dan lima laki-laki. Saya anak ke empat dari pasangan Zubaidah dan Muhammad Jamil. Adik saya nomor tujuh Thamrin Jamil, yang masih hidup dan saat ini masih berdomisili di Alampanjang (istrinya di Desa Pulau Payung- red), bahkan beberapa priode menjabat sebagai kepala desa itu.
Memang nasib kami boleh dibilang cukup baik; syukur alhamdulillah!.Bersama dengan adik saya dan saudara yang lain serta tokoh masyarakat desa itu, kami mempunyai hajat besar mengelola lembaga pendidikan; sekolah agama madratsah aliyah swasta (MAS) yang sudah berjalan, serta membangun komplek pendidikan Islam di komplek mesjid Abdul Karim.
Walaupun saya tidak lagi tinggal di kampung dimana adik-adik dan saudara saya yang lain berdomisili. Namun, hubungan kami tetap terjalin dengan baik. Sebagaimana dunia saya, dibidang pendidikan, saya terobsesi mewujudkan lembaga pendidikan agama yang berkualitas di desa tumpah darah saya itu. Usia saya yang sudah uzur bukan halangan bagi saya untuk tetap berbuat berkiprah sesuai dunia saya. Mudah-mudahan saja Allah SWT tetap memberikan kesehatan dan pikiran yang jernih kepada saya untuk mewujudkannya.
Bagi saya tidak ada kata terlambat untuk pendidikan, sebab apa yang saya miliki dan lakukan sekarang, jejak dari pendidikan sejak muda yang saya tekuni. Masa lalu itu sangat indah bagi saya. Maka semasa kita masih muda dan kuat, saat itulah waktu yang tepat memulai hidup kita sesuai dunia kita untuk dinikmati di hari tua.
Saya beranggapan apa yang saya lakukan selama ini, itulah yang bisa saya berikan untuk masyarakat dan keluarga. Sekemampuan saya sudah berusaha untuk berbuat lebih. Namun, mungkin bagi mereka belum berarti apa-apa.
Tapi, sekali lagi itulah yang saya bisa persembahkan untuk daerah (desa) dan bangsa saya serta orang-orang tercinta dimana mata saya pertama kali menyingkap matahari.***
* Dari Penuturan Tokoh Desa Alampanjang; Hasan Basri Djamil, BA * Editor: Khairullah (Bermastutin di Pekanbaru)