Pimpin Upacara Sumpah Pemuda ke 89,
Gubri: Dulu Kita Dipisahkan Jarak Bisa Bersatu, Kini Terasa Runtuh
Sabtu, 28 Oktober 2017 - 12:33:01 WIB
SULUHRIAU, Rohil- Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman memipin uacara peringatan sumpah pemuda ke 89 dipusat di lapangan bola Bagan Sinembah Rokan Hilir (Rohil) Sabru, (28/10/2017).
Beberapa hal disampaikan Gubri dalam sambutan tertulis dari Menpora Imam Nahrowi untuk mengingat kembali sejarah bangsa ini, hingga hari ini masih tetap bisa bersatu dalam lingkar NKRI dengan terus berupaya memupuk rasa persatuan.
Peringatan sumpah pemuda tahun ini, bagi Warga Rohil khususnya pertama kali ikut upacara memperingati hari bersejarah bangsa ini. Pada umumnya instansi pemerintah di Riau tidak menggelar upacara Sumpah pemuda tepat tanggal 28 Oktober ini, namun Gubri bersama masyarakat Rohil memperingatinya penuh hikmad.
Upacara ini antara lain diikuti, Sekdaprov Riau Ahmad Hijazi, Bupati Rokan Hilir Suyatno, Wakil Bupati Rokan Hilir Djamiludin. Forkopimda Rohil, sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov Riau, berbagai organisasi kepemudaan, TNI/Polri, pelajar, mahasiswa, guru, Satpol PP dan undangan lainnya.
Dalam sambutannya Gubri mengatakan, pentingnya menjaga persatuan dan jangan sampai mudah dipecah belah yang dapat menghancurkan bangsa ini.
Ia mengatakan, dahulu kita dipisahkan dengan jarak, komunikasi dan fasilitas transportasi sangat terbatas, namun pemuda dulu bisa bertemu, bersatu untuk menjunjung persatuan dan kesatuan. "Puncaknya diucapkannya sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 oleh masing-masing perwakilan daerah yang ada di nusantara ini," kata Gubernur Riau.
Tidak hanya soal jarak atau pun waktu, pemuda berasal dari berbagai suku, adat istiadat, agama berbeda, mampu menghilangkannya dengan mengedepankan rasa persaudaraan.
Bayangkan saya bagaimana Muhammad Yamin yang berasal dari Sawah Lunto yang mewakili Yong Sumatera, bisa bertemu dengan pemuda-pemuda dari Jong Ambon. Begitu juga dari Madura, bertemu dengan pemuda dari Sulawesi.
Pada hal untuk jarak Sumatera Barat dengan Ambon saja mencapai 4 ribu kilometer lebih. Transportasi masih mengandalkan laut.
Komunikasi masih menghandalkan surat pos yang membutuhkan hingga dua bulan. Namun itu tak membatasi mereka yang berebeda suku, adat istiadat dan agama untuk bersatu untuk mencapai kemerdekaan.
Hal itu seolah tidak lagi bisa dirasakan sekarang. Dimana semua perbedaan itu seakan ada dinding tinggi dan kokoh sulit untuk dirubuhkan. Pada hal tanpa persatuan dan kesatuan, negara multi kultur ini akan mudah dihancurkan.
Gubri dalam kesempatan itu juga menyerahkan bantuan dan penghargaan kepada pemuda berprestasi melalui pertukaran pemuda antar negara. Kemudian ada juga pemuda berprestasi dibidang wira usaha, duta pemuda kreatif, pemuda peduli lingkungan, pemuda pelopor bidang seni budaya serta sejumlah penghargaan lainnya. [jmn]
Komentar Anda :