Minggu, 16 Agustus 2026 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
 
 
☰ Internasional
Myanmar: Media Tulis Berita Palsu Soal Rohingya Untuk Sesatkan Publik
Kamis, 07 September 2017 - 10:06:11 WIB
AFP/GettyImages

SULUHRIAU- Militer Myanmar membantah tuduhan melakukan kampanye kekerasan yang tidak pandang bulu atas umat Muslim Rohingya.

Dalam konferensi pers di ibu kota Naypitaw, Rabu (06/09), Penasihat Keamanan Nasional, Thaung Tun, menggemakan pernyataan Aung San Suu Kyi sebelumnya.

Menurut Aung San Suu Kyi -yang menjabat Konseler Negara dan merupakan pemimpin Myanmar sebenarnya- krisis di Negara Bagian Rakhine telah diputarbalikkan oleh yang disebutnya 'informasi yang salah'.

Hal itu diungkapkannya setelah adanya tekanan dari dunia internasional selama beberapa hari belakangan yang berpendapat pemerintah Myanmar gagal melindungi warga Rohingya di Rakhine.

Komentarnya itu merupakan yang pertama sejak maraknya kekerasan di Rakhine pekan lalu, yang -menurut perkiraan PBB- mendorong sekitar 140.000 warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Dan Thaung Tun, kepada para wartawan juga menuding bahwa media yang bertanggung jawab.
Thaung Tun tidak merujuk secara rinci berita yang menurutnya palsu. "Saya amat kecewa dan sedih dengan kampanye informasi yang berlangsung di seluruh dunia mengenai situasi di Rakhine. Sejumlah berita yang dibuat-buat itu ditulis dan diterbitkan untuk menyesatkan khalayak umum."

Thaung Tun menambahkan bahwa semua berita itu palsu, tanpa merujuk secara rinci yang dimaksudnya. "Berita-berita itu hanya memperuncing situasi."

Aksi terorisme, kata warga Yangon

Seorang dokter yang tinggal di Yangon yang fasih berbahasa Indonesia mengatakan bahwa berita-berita yang mereka baca dan mereka lihat di TV melaporkan bahwa yang terjadi di Negara Bagian Rakhine adalah aksi terorisme.

"Kan mereka menyerang pos-pos polisi segala macam, itu kan tindakan terorisme dan bukan tindakan pemberontakan lagi. Sudah beda," katanya ketika dihubungi lewat telepon.

Myanmar, koran,AFP Berita-berita yang dibaca di Yangon, menurut seorang warga, melaporkan insiden diRakhine sebagai tindakan terorisme.
Dokter yang tidak bersedia disebutkan namanya itu juga berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi di Rakhine sebenarnya tidak terkait dengan masalah agama.

"Bukan cuma masalah agama. Jadi di daerah situ kan masalahnya sangat banyak, termasuk imigran gelap juga. Jadi kita tidak bisa melihatnya sebagai umat Islam. Kebetulan mereka Muslim tapi masalahnya lebih rumit dari pada itu."

Bagi dokter yang pernah tinggal di Yogayakarta ini, juga tidak benar jika dianggap kekerasan oleh aparat keamanan di Rakhine itu tergolong pembunuhan massal.

"Kalau semacam genosida itu nggak, saya rasa. Kalau tindakan terorisme kan harus ditindak tegas oleh polisi atau mungkin bisa jadi army (tentara) karena kelompok-kelompok itu, kayak ARSA (kelompok militan Islam Rohingya yang dituduh menyerang pos polisi), kan belum tentu warga negara Myanmar."

Para pengungsi Rohingya yang berhasil mencapai tempat penampungan sementara di Bangladesh mengatakan bahwa aparat keamanan dan milisi Buddha membakari kampung-kampung mereka.

Namun Thaung Tun meminta agar para warga yang menjadi korban itu memberikan bukti-bukti ke pengadilan.

"Kami mengirim tim penyelidikan ke Cox's Bazaar (distrik di Bangladesh yang banyak menampung pengungsi Rohingya) dan meminta mereka untuk datang ke Myanmar di bawah perlindungan internasional dan menyampaikan kasusnya di pengadilan, memberikan bukti-bukti."

Pekan lalu pelapor khusus hak asasi PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee, mengkritik Aung San Suu Kyi yang dianggap gagal melindungi orang Rohingya walau menyadari dia berada dalam posisi yang sulit.

Sementara itu muncul petisi di internet untuk meminta agar Komite Nobel mencabut Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepada Suu Kyi tahun 1991 lalu.

Pihak berwenang Myanmar, seperti pada masa-masa lalu, membantah melakukan kekerasan atas Rohingya di Rakhine namun menggelar operasi militer untuk memberantas kelompok militan Rohingya, yang dituduh menyerang sekitar 20 pos polisi.

Menyangkut kampung-kampung yang dibakar, Menteri urusan Keamanan Perbatasan di Rakhine, Kolonel Phone Tint menolak jika aparat keamanan yang dituduh bertanggung jawab.

Kepada wartawan BBC, Jonathan Head -yang ikut dalam perjalanan yang diatur pemerintah ke kota Maungdaw di dekat perbatasan Myanmar dan Bangladesh- dia mengatakan penghancuran kampung-kampung sengaja dilakukan oleh milisi Rohingya untuk mendorong warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Dalam perkembangan terpisah, Bangladesh akan menyampaikan protes resmi kepada pemerintah Myanmar karena diduga memasang ranjau darat di dekat salah satu perbatasan kedua negara.

Sumber: bbc Indonesia, detik.com | Editor: Jandri



 
Berita Lainnya :
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    02 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    03 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    04 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    05 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    06 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    07 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    08 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    09 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    10 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    11 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    12 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    13 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    14 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    15 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    16 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    17 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    18 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    19 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    20 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    21 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    22 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat