Dibutuhkan Sinergi Kuat UMKM-PT Tingkatkan Kualitas Persaingan di MEA
Kamis, 15 Desember 2016 - 11:21:48 WIB
|
Rektor UIR Prof Detri Karya
|
PEKANBARU, Suluhriau- Sinergi antara usaha mikro, kecil dan menegah (UMKM) bersama perguruan tinggi menjadi salah satu strategi dalam upaya memajukan umkm saat era masyarakat ekonomi asean (MEA).
Dinamika ekonomi dunia saat ini menyorot tajam perkembangan pesat yang terjadi di kawasan Asia Tenggara, populasinya di dunia mencapai 8,7 persen dengan volume ekonomi lebih dari USD 2,2 triliun, disisi Indonesia sebagai pemain ekonomi terbesar di asia tenggara dan menjadi satu-satunya negara asean yang mampu menembus sebagai bagian dari G-20 yakni 20 negara terbesar pengendali ekonomi dunia.
Hal itu dikatakan, pengamat ekonomi Internasional dari Universitas Islam Riau, Prof Detri Karya. Menurutnya, sokongan terbesar ekonomi Indonesia berasal dari sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM), karena populasinya mencapai 99 persen dari total unit usaha di Indonesia, wirausaha sektor UMKM mampu menyerap tenaga kerja hingga 97 persen dari total angkatan kerja yang ada.
Selama ini sektor umkm masih menghadapi banyak tantangan pada sektor sumberdaya manusia, inovasi dan standarisasi kualitas produ, akses pasar, akses modal, inefisiensi dan kelemahan dalam aspek administrasi, sehingga membutuhkan peran perguruan tinggi yang bersinergi dengan pelaku usaha serta pemerintah.
Jika tiga pihak tersebut mampu dioptimalkan, terutama dalam era MEA, maka akan meningkatkan dinamika dan kesinambungan ekonomi negara, maka perlu kontribusi perguruan tinggi bagi umkm karena selama ini menjalankan usahanya secara Otodidak.
Detri Karya menambahkan, persaingan yang tinggi di era MEA menuntut adanya inovasi dari pelaku usaha, keteraturan pengelolaan usaha, kepastian dan jaminan hukum, akses permodalan, akses pemasaran dan pemanfaatan teknologi dalam rangka efektivitas dan efisiensi, agar produk umkm bisa bersaing dengan serbuan produk asing di era MEA.
Hal tersebut tidak mungkin dilakukan pemerintah akibat banyaknya keterbatasan, sementara pelaku usaha sulit melakukan kajian bersifat akademis yang bisa membantu memberikan solusi yang dihadapi. (las)
Komentar Anda :