Rabu, 28 Juli 2021
Wako Firdaus Sambangi Dapur Umum Danrem 031/WB di Halaman Gedung LAMR | Eks Menteri Sosial Juliari Batubara Dituntut 11 Tahun Penjara | Rakor Satgas Covid-19-MUI & Lurah: Salat Jamaah di Mesjid Selama PPKM Level 4 Dianjurkan Ditiadakan | Wabup Sulaiman Minta Persoalan Tertunggakan Gaji Nakes Segera Dibayarkan | Ini Tampang Pembacok Ketua MUI Labura hingga Tewas-Tangan Putus | IMF Pangkas Lagi Proyeksi Ekonomi RI Jadi 3,9%, Kemenkeu Buka Suara
 
DPRD Pekanbaru
DPRD Pekambaru Nilai Pemerintah Lemah dalam Awasi Pasien OTG Covid-19

DPRD Pekanbaru - - Senin, 31/05/2021 - 16:00:53 WIB

SULUHRIAU, Pekanbaru- DPRD Pekanbaru meminta pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap masyarakat yang terpapar Covid-19 namun memilih melakukan isolasi mandiri di rumah.

Rata-rata pasien Covid-19 yang lebih memilih melakukan isolasi mandiri di rumah ini adalah pasien yang dalam kategori Orang Tanpa Gejala (OTG) atau dengan gejala yang ringan.

"Perhatian pemerintah kurang terhadap pasien OTG ini, jadi kita minta pemerintah kerjasama dengan camat, lurah hingga RT dan juga RW," kata anggota DPRD Pekanbaru, Aidil Amri, Senin (31/5/2021).

Menurut politisi Demokrat ini, selama ini masyarakat yang melakukan isolasi mandiri di rumah kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, khususnya obat-obatan maupun bantuan makanan.

"Pihak Puskesmas, camat dan lurah harus aktif memantau perkembangan pasien. Jangan sampai masyarakat yang melakukan isolasi mandiri ini kondisinya memburuk," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, belakangan ini angka pasien Covid-19 terus bertambah di Pekanbaru. Angka kematian akibat virus itu juga cukup tinggi beberapa minggu terakhir.

Walikota Pekanbaru Dr Firdaus MT mensinyalir penyebabnya orang tanpa gejala (OTG) yang isolasi di rumah tidak melapor ke puskesmas terdekat.

"Saya harus berulang-ulang menyampaikan kepada masyarakat bahwa Covid-19 ini nyata dan berbahaya. Angka kematian akibat virus corona sudah lebih dari 400 orang sejak awal pandemi tahun lalu," kata Walikota, Ahad (30/5/2021).

Bahkan, pasien yang meninggal ada yang lebih dari lima orang. Korban yang meninggal itu lebih banyak melakukan isolasi mandiri di rumah.

Diakuinya, OTG yang menjalani isolasi di rumah tidak bisa dipantau. Sementara, perubahan Covid-19 ini sangat cepat.

"Orang-orang yang melakukan isolasi mandiri itu ternasuk para pejabat. Teman-teman saya yang isolasi mandiri di rumah, dilarikan ke rumah sakit setelah fatal. Mereka tak tertolong lagi," ungkapnya.

Berkaca dari kondisi itu, rapat bersama gubernur Riau dan Forkompimda pekan lalu, perawatan bagi OTG di rumah juga harus dipantau. Pelayanan pengobatan juga harus diberikan para para OTG yang isolasi mandiri.

"Walaupun sudah kami lakukan, tetap ada juga yang tercecer. Ada juga yang memeriksakan penyakit yang dideritanya tidak di puskesmas. Sehingga, saat mereka melakukan tes swab di rumah sakit dan lalu positif, tidak dilaporkan ke puskesmas," sebutnya.

Sehingga, petugas medis tidak dapat melakukan pengawasan. Hal ini juga salah satu kendala. "Kami sepakat dengan gubernur, paket obat-obatan mesti dikirim ke warga yang melaksanakan isolasi mandiri," jelasnya. [src]



 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2020 SULUH RIAU , All Rights Reserved