Selasa, 26 Oktober 2021
Viral Kuis Berhadian HUT BRI ke 210, Kacab BRI Teluk Kuantan: Itu Hoax | dr. Jimmy Kurniawan Kebali Pimpin APSAI Pekanbaru Periode 2021-2024 | KPK Sebut 86 Persen Koruptor Berpendidikan Tinggi | Kisruh KNPI, Fungsionaris Mundur dari kepengurusan Haris Pertama | Kelurahan Teluk Meranti Gelar Lomba Kebersihan dan Kreatif Lingkungan RT | Buntut Viral Postingan di Medsos, KPK Geledah Kamar Tahanan Bupati Kuansing
 
Sosial Budaya
Seruan 'Tidak Mudik' Dinilai Percuma, Pelonggaran Transportasi Akan Membuat Corona Merajalela

Sosial Budaya - - Kamis, 07/05/2020 - 12:49:48 WIB

SULUHRIAU- Pemerintah memberikan kelonggaran bagi masyarakat di tengah pandemi Covid-19.  Hari ini, transportasi umum seperti pesawat, kapal, kereta api, hingga bus, diizinkan kembali beroperasi.

Melihat kerja pemerintah seperti ini, sosiolog yang juga Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar, mengatakan, seruan tidak mudik selama ini akan menjadi percuma.

Pelonggaran transportasi umum membuat penyebaran conona merajalela.

"Seruan enggak mudik percuma. Para pemudik naik truk ditutup terpal dilakukan, apalagi moda transportasi tersedia, ya mudik. Kita tunggu saja corona merajalela," ujar Musni Umar, Kamis (7/5/2020).

Menurutnya, kebijakan pelonggaran transportasi jelang lebaran oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membingungkan.

"Kebijakan ini labrak PSBB dan larangan mudik. Dampaknya semakin sulit melawan corona karena penyebaran secara terbuka melalui mudik akan semakin marak," ucap Musni Umar.

Dia sangat yakin, pelonggaran transportasi akan mendorong masyarakat untuk bepergian. "Sangat amburadul pemerintah menangani corona. Membolehkan semua moda transportasi beroperasi buka peluang pemudik untuk pulang kampung. Siapa yang mampu mengawasi," tutup Musni Umar.

BACA JUGA: Menhub: Mulai 7 Mei Seluruh Moda Transportasi Beroperasi Kembali

Di tengah pelonggaran transportasi, pemerintah dengan tegas melarang warga untuk mudik. Dalam Surat Ederan No. 4/2020 dari Kepala Gugus Tugas Covid-19, ada tiga kriteria pengecualian yang boleh bepergian.
Pertama, perjalanan orang yang bekerja pada lembaga pemerintahan dan swasta yang menyelenggarakan pelayanan percepatan penanganan Covid-19, pertahanan, keamanan, ketertiban umum, kesehatan, kebutuhan dasar, pendukung layanan dasar, dan fungsi ekonomi penting.

Kedua, perjalanan pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan darurat, atau perjalan orang yang anggota keluarga intinya (orang tua, suami/istri, anak dan saudara kandung) sakit keras atau meninggal dunia.

Ketiga, repatriasi PMI, WNI, dan pelajar/mahasiswa yang berada di luar negeri, serta pemulangan orang dengan alasan khusus oleh pemerintah sampai ke daerah asal, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. [rmol.id]

Editor: Jandri






 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2020 SULUH RIAU , All Rights Reserved